Piano lahir di Italia sekitar tahun 1700 dari tangan seorang pembuat alat musik bernama Bartolomeo Cristofori (1655–1731). Cristofori berasal dari kota Padua dan bekerja untuk Pangeran Ferdinando de' Medici di Florence, yang bertugas merawat koleksi instrumen musik istana. Pada masa itu, dua instrumen papan tuts yang paling populer adalah klavisembalo (harpsichord) dan klavikord. Klavisembalo bersuara nyaring karena senarnya dipetik, tetapi keras lemah bunyinya tidak bisa diatur lewat kuat lemahnya sentuhan jari. Klavikord sebaliknya sangat peka terhadap sentuhan, namun suaranya terlalu kecil untuk ruangan besar atau permainan bersama orkestra. Cristofori ingin menggabungkan kelebihan keduanya, dan jawabannya adalah palu-palu kecil yang memukul senar lalu segera kembali ke posisinya, sehingga senar bebas bergetar. Catatan inventaris istana Medici tahun 1700 sudah menyebut instrumen baru buatannya yang dapat dimainkan pelan maupun keras. Nama aslinya, gravicembalo col piano e forte, kemudian disingkat menjadi pianoforte, dan akhirnya kita kenal sebagai “piano”.
Pada awalnya, penemuan Cristofori hanya dikenal di lingkungan terbatas. Barulah pada tahun 1711, seorang penulis Italia bernama Scipione Maffei menerbitkan artikel lengkap dengan gambar cara kerja mekanismenya di jurnal Giornale de' letterati d'Italia. Artikel itu kemudian diterjemahkan ke bahasa Jerman dan dibaca oleh Gottfried Silbermann, pembuat alat musik di Saxony yang mulai membuat piano sendiri. Dikisahkan bahwa Johann Sebastian Bach sempat mengkritik piano Silbermann yang awal karena nada tingginya lemah dan tutsnya terasa berat. Setelah diperbaiki, pada tahun 1747 Bach memainkan piano buatan Silbermann di istana Raja Frederick yang Agung di Potsdam. Di kota Augsburg dan Wina, Johann Andreas Stein dan para pembuat piano lain mengembangkan mekanisme yang lebih ringan dan responsif. Wolfgang Amadeus Mozart memuji piano buatan Stein dalam suratnya tahun 1777, sementara Ludwig van Beethoven kelak menuntut piano yang lebih kuat dan lebih lebar jangkauannya untuk menampung musik yang semakin dramatis.
Abad ke-19 adalah masa ketika piano berubah menjadi instrumen yang kita kenal sekarang. Seiring Revolusi Industri, pembuat piano mulai memakai rangka besi tuang yang mampu menahan tegangan senar yang jauh lebih tinggi, sehingga senar bisa lebih tebal dan panjang, suaranya lebih besar, dan stabilitas nadanya lebih awet. Pembuat piano Prancis, Sébastien Érard, memperkenalkan mekanisme double escapement pada tahun 1821 yang memungkinkan sebuah nada diulang dengan sangat cepat tanpa tuts harus kembali penuh ke atas. Di saat yang sama, piano tegak yang hemat tempat dikembangkan sehingga piano tidak lagi hanya milik istana dan gedung konser, melainkan masuk ke ruang keluarga di rumah-rumah biasa. Perusahaan Steinway & Sons berdiri di New York pada tahun 1853 dan ikut membentuk standar piano konser modern. Jangkauan tuts pun terus bertambah, dari sekitar lima oktaf pada zaman Mozart hingga 88 tuts yang menjadi standar piano modern.
Memasuki abad ke-20, teknologi elektronik membawa piano ke babak baru. Muncul piano listrik, synthesizer, dan setelah standar MIDI diperkenalkan pada awal 1980-an, keyboard dapat terhubung langsung dengan komputer dan alat musik lain. Keyboard seperti Casio CT-X800 yang kami bandingkan dengan pianoforte kuno di bawah ini adalah hasil perjalanan panjang itu. Ia memiliki 61 tuts, sama dengan jangkauan piano pada zaman Mozart, namun dilengkapi tuts yang peka sentuhan, ratusan pilihan suara dan irama, serta fitur Step Up Lesson yang membimbing pemula belajar lagu langkah demi langkah. Stiker nama nada yang ditempel di atas tuts juga menjadi cara sederhana namun efektif untuk membantu pemula mengenali posisi nada.